SENTANI- Perencanaan kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masalah-masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan akan menjadi efektif jika perumusan masalah sudah dilakukan berdasarkan fakta-fakta dan bukan berdasarkan emosi atau angan-angan saja, demikian dikutip pernyataan dari beberapa teori-teori perencanaan kesehatan.

Analisis Masalah dalam perencanaan menjadi sangat penting dalam menentukan jenis intervensi melalui program dan kegiatan, lokus pelaksanaan dan pada akhirnya jumlah anggaran yang perlu disediakan. Anggaran Kesehatan yang secara umum bersifat top-Down memerlukan perencanaan yang baik dengan mengedepankan efisiensi melalui sinkronisasi kegiatan sehingga tujuan kinerja yang ditetapkan dapat tercapai. 

Melalui Analisis DAfP (Data Analysis for Planning) dan IMP (Integrated Mikro Planning), Dinas Kesehatan dan Puskesmas di Kabupaten Jayapura mencoba menetapkan perencanaan berbasis bukti dengan analisis sederhana menggunakan data-data capaian kinerja. Dalam menyusun Analisisnya, masing-masing menginput dalam aplikasi berbasis excel seluruh data dasar dan data capaiannya. Data yang diinput menjelaskan kondisi kinerja :

  1. Indikator Kualitas Akses Masyarakat terhadap program kesehatan seperti pada Program Kesehatan ibu adalah Prosentase Indikator K1 (Kunjungan Ibu hamil pertama kali ke tenaga kesehatan) atau pada Program HIV/AIDS yaitu indikator Jumlah  masyarakat untuk akses terhadap tes HIV.
  2. Indikator Kualitas pemanfaatan program kesehatan oleh masyarakat seperti pada program Kesehatan Ibu adalah Prosentase K4 (Kunjungan ibu hamil minimal 4 kali ke tenaga kesehatan) atau pada Program HIV/AIDS yaitu indikator jumlah penderita HIV/AIDS mendapatkan pengobatan.
  3. Indikator Aspek lainnya yang menggambarkan aspek-aspek penting yang menjadi indikator kinerja program dalam mendukung penguatan program kesehatan tersebut, seperti Jumlah Kematian Ibu, Jumlah Penderita HIV/AIDS yang Lolos Follow Up, dsb.

Indikator kinerja yang digunakan pada aplikasi analisis masalah ini dikhususkan pada program-program yang masuk dalam SPM Kesehatan PMK No.46 tahun 2016. Hasil Analisisnya berupa beberapa kondisi yaitu :

  1. Ba-Ba artinya akses Baik dan Pemanfaatan Baik. Ditandai dengan warna Hijau
  2. Ba-Bu artinya akses Baik dan Pemanfaatan Buruk. Ditandai dengan Warna Biru
  3. Bu-Ba artinya Akses Buruk dan Pemanfaatan Baik. Ditandai dengan Warna Kuning
  4. Bu-Bu artinya Akses Buruk dan pemanfaatan Buruk. Ditandai dengan Warna Merah.

Hasil tersebut dapat digambarkan dalam sebuah peta dan akan terlihat gambaran kondisi layanan kesehatan yang terjadi sehingga intervensi program dan kegiatan yang akan dipilih lebih efektif dan efisien anggaran.

Aplikasi Analisis ini dikembangkan oleh UNICEF bekerjasama dengan Dinas Kesehatan provinsi Papua, dan melalui beberapa proses pendampingan, telah memperkuat DInas Kesehatan kabupaten Jayapura serta menjadi sistem kerja perencanaan yang diatur melalui Surat Keputusan Kepala Dinas. Alat analisis ini sudah menjadi bagian dari dokumen perencanaan Kerja di Dinas Kesehatan kabupaten Jayapura.

Hasil Analisis DAfP dan salah satu IMP Puskesmas
Follow and Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *